Oleh: Faqih Hindami
Matamu teranyam tali-tali cinta.
Irisnya
secerah nebula, bulan dan bintang di pupilnya.
Ujungnya
terajut, tergantung impian-impian bocah yang ingin terbang ke angkasa.
Matamu,
kelopaknya menampakkan surya megah merah kesumba.
Di
dekatnya, sebuah negeri yang gamang tengah mendaki curam,
sedang di bawahnya puluhan bola emas tengah berguling, bergulir, seraya merayunya.
sedang di bawahnya puluhan bola emas tengah berguling, bergulir, seraya merayunya.
Hanya
kaca yang menyentuh batang hidungnya kemarin lusa.
Lalu lewat tanganmu, pengganjal kusen jendela itu terbuka,
dan serpih udara dunia telah dihirup melaluinya.
Lalu lewat tanganmu, pengganjal kusen jendela itu terbuka,
dan serpih udara dunia telah dihirup melaluinya.
Tanganmu,
berharap agar hangatnya tak pernah mengkhianati kita.
Dan telapak kakimu adalah muara yang semua air ingin bersua dengannya.
Dan telapak kakimu adalah muara yang semua air ingin bersua dengannya.
Depok,14 April
2014

No comments:
Post a Comment