Oleh : Faqih Hindami
Duka mengapung, di bawah rintik hujan tak terhitung.
Hingga jauh laut penghujung, aku mendayung.
Di luar sana cuma mendung. Cuma kelam merundung.
Tertatih perempuan bertudung, dengan duka di punggung.
Memulung kebenaran, namun tersandung.
Ke langit mendung sana tangannya mengacung.
Hendak menampung harap yang belum rampung.
Di bawah mendung, tikus-tikus malah riang bersenandung.
Di atas panggung, dadanya luas membusung.
Disanjung, hingga hatinya terkurung.
Seketika hujan menarikku merenung.
Siapa menanggung? Siapa terpasung?
Sedang hidup cuma butuh satu jantung.
Bingung.
Yang tahu, hanya urung, diam mematung.
Bagai dibenam dalam palung.
Ah!
Depok,
19 Mei 2013

No comments:
Post a Comment