Oleh : Faqih
Hindami
Sajakku sajak bisu,
Sajak rindu yang mengunci tegar
jarak kita dan masa.
Tiada yang tau apa yang memenuhi
jiwa ini.
Aku cuma jenuh menjadi pemuja
misteri,
kalau hatimu saja memilih buta
dan mengabaikan setiap huruf dalam baris sajak.
Matamu cukup dekat untuk
menunjukiku jalan harap di sudut lorong, dan aku tak perlu menjatuhkan peluh ke
tanah untuk melangkahi terjal mencuri manis senyummu.
Tapi, rasanya jarak hati kita terlampau jauh untuk dicapai masa.
Tapi, rasanya jarak hati kita terlampau jauh untuk dicapai masa.
Sajakku sajak sendu,
Sajak romantika yang menakar
waktu menunggu temu.
Tiada yang tau apa yang
memenuhi jiwa ini.
Aku hanya lelah cuma menjadi
penuai sajak cinta untuk lembar epilog-mu.
Aku ingin menjadi malaikat di
surga kecilmu, menjadi pujangga di pondok memorimu,
lalu denganmu menelusuri sabana dan taman bunga di utara.
lalu denganmu menelusuri sabana dan taman bunga di utara.
Kalau jemariku ini jarum
waktu, sudah lama ku rangkai detik, ku rombak tentu pintalan menit, agar tak
ada yang perlu memanjakan masa.
Karna aku tak ingin kau lenyap
dari mimpi ketika takdir mulai menyerah dengan waktu,
sedang cintaku lebih kekal dari
janji.
Terserah pada senja ke berapa kita lagi berjumpa.
Aku akan tetap menantimu dalam
sajak yang kuukir dalam diam.
Sungailiat,
Awal Maret 2013
Sajak cinta untuk
gadis yang matanya pernah menatapku dalam
kemudian memejam, berpaling dan lari
kemudian memejam, berpaling dan lari
Ah, andai saja
mata itu dapat kukecup

No comments:
Post a Comment