Powered By Blogger

Monday, March 24, 2014

Memorabilia II


Oleh : Faqih Hindami

Di antara terik surya kita melangkah menyeruak masa.
Di siang hari kita menelanjangi memori yang terselip di antara kata.

Di jalan ini kita melihat masa lalu: dua  bocah dengan dahi yang dialiri peluh dan nafas  tersengal separuh, pernah berjalan gopoh memikul berat impian di pundak, melompati parit kecil, menyeberangi jembatan rapuh pada pertengahan hari.

Sejenak surya meringkuk di balik serdadu awan putih bagai kapas, menyisakan teduh
untuk kita mengenang sampai kenyang, tentang kelakar bocah-bocah di jalan, di selokan, di kolam, di sekolahan, di bawah rindang Ketapang yang daunnya gugur dan menderai dibawa angin, sebelum tawa dan gurau perlahan lenyap ditelan sore, dan mereka kembali, pulang ke rumah, menulis jalan terang untuk meraih kejora.

Surya berayun ke balik bukit-bukit, dimana nada-nada harmoni nan ceria tak lagi terdengar sejak kemarin petang. Nada-nada yang memperdengarkan emosi dan celoteh-celoteh mimpi ke telinga-telinga kita.

Kembara

Oleh : Faqih Hindami


Lari, aku ingin berlari
Menyajak manis di bawah temaram lampu-lampu Paris
Menelusuri jalan-jalan Roma, memungut tawa yang sirna
Lalu menepi ke Bora-bora lantas menuliskan cinta
Menyusuri Porto Covo dan mengabadikan rona-rona teja
Menari dan menyulut rindu di antara salju utara
Dan mencuri indah aurora di Ontario untuk memberi warna pada senyum canda

Sajak Perpisahan


Oleh : Faqih Hindami

Tak ada yang ditawarkan petang kini selain kesedihan.
Riak mata-matamu telah menjadikan  haru suasana.
Lonceng-lonceng stasiun menyanyikan lagu pengantar kepergian.
Kenapa mesti berpisah kala mulai merajut cinta?
Apa para dewa waktu mencemburui romansa kita ?

Depok,
2 Agustus 2013

Suatu Fajar di Solo


Oleh : Faqih Hindami

Fajar nautikal tiba disini membawa sunyi.
Sampaikan salam dan sapa pada jiwa-jiwa sepi.
Subuh telah pergi menyisakan banyak serpihan masa.
Tak ada yang bertanya kenapa kami cepat beranjak pergi.
Padahal dewi bertudung sutera baru saja mengukir dahiku
Dengan sebuah kenangan tak bernama.
Sebelum aku bergegas lari dari kota ini.


Solo, 20 Juli 2013

Munafik


Oleh : Faqih Hindami

Aku takkan mati kau maki.
Meski kau serigala penelan serapah,
Mencabik wajahku hingga berdarah,
Tak bisa kau paksa lidahku menyabung dengan lidahmu.
Sebab aku tak ingin menyesap liur dusta dari mulutmu yang terus mengucap surga,
Padahal kaki-kakimu menginjak bara neraka.

Amsal Serigala

Oleh : Faqih Hindami

Aku telah memberinya sulut api, lalu menawarkan minyak untuk menyalakan bara,
agar bisa membakarku sehangusnya.
Tapi ia hanya meminta batu, untuk mengasah taringnya, lalu perlahan menerkam nyawaku hingga lenyap semua.

Depok,
15 Juni 2013 

Bait Buat Bunda


Oleh : Faqih Hindami


Adalah aku yang mengabaikan sabda.
Yang membiarkan saja jatuh air mata.


Adalah mataku yang terlena megah dunia.
Meski surya usiamu mendekati cakrawala senja.


Adalah tawamu yang menyejukkan jiwa.
Yang memberi arti hingga maaf menjadi bermakna.


Adalah senyummu yang menjadi pendar cahaya.
Dan ucapanmu yang menjelma doa.

Adalah peluhmu yang membungkam dunia.
Karna menyulap setiap mimpi menjadi nyata.

surat cinta (untuk dirimu yang disayangi waktu)



Untuk dirimu yang disayangi waktu,
Terlalu sayang waktu padamu hingga tidak mengizinkanku memeluk matamu meski satu senja saja.

………………*sensor*……………



Sebagai pembuka, aku ingin meminta maaf. Karna yang akan kau baca bukan kata-kata indah yang mengalir dari tinta-tinta pena pemuisi cinta. Sebab aku bukan penyair yang pandai merangkai syair-syair megah. Bukan juga pujangga yang piawai menulis diksi-diksi indah untuk menyebut cinta. Yang bisa ku perbuat hanya mengumbar yang ku pendam dalam hati di atas kertas-kertas suci melalui tetes tinta hitam.

Maaf. Bukannya tidak ingin mencurahkan segalanya dengan langsung bicara. Tapi mata beningmu selalu menyulap hembus angin hangat menjadi sejuk, menggembok erat bibirku, lalu memutus saluran pengalir kata ke lidahku. Sehingga terperangah saja aku oleh tatap mata.

Sunday, March 9, 2014

Kelana

Oleh: Faqih Hindami

Bersama mimpi aku melintas mendaki.
Dengan sayap waktu aku terbang tinggi.
Di luar sana angin menghembus menghempas nyali.
Meniupi wajah dengan segala dusta & emosi.
Dalam hidup tak tau apa yang dicari.
Sedang tak ada yg dapat diterka lagi.
Tak ingin aku menahan diri dan kembali.

Cuma menyerahkan hati buat dicaci,
atau memintal kata hanya untuk dicerca.

Jika hidup adalah kelana, entah kemana aku mesti mengembara.
Jika sahabat saja sudah memelihara serigala di dadanya,
lalu membungkus taring dengan senyum dibibirnya.
Dan kekasih yang menghadiahkan kado semu cinta tak lagi setia,
karna muak membaca kisah romantika yang tak pernah bisa diterka.
Tapi di rumah, Bunda menawarkan cinta dibalik pintu surga.
Menabur doa dibawah langit malam buta.
Entah apa yang mesti ku bawa ke ujung masa.
Atau ku tanggalkan saja semua dan kembali ke rangkulanNya.
 

Isyarat



Oleh: Faqih Hindami

Ada isyarat yang tetap tidak tersampaikan.
Menyesak di dada.
Dalam diam aku terus melirih hampa.
Berikan aku arti!
Agar peluh dan air mata betul-betul menetes demi mimpi.
Atau tidak demi apa-apa.

Tapi siapa pula yang mendengarku menderu?
Apa aku mesti membiarkan waktu bicara, tanpa aku harus berkata?

Tangis Bocah

Oleh: Faqih Hindami



Ini bocah menangis jua.
Habis mengorek kuping congeknya hingga berdarah.
Telah lama aku mengabaikan cerita tentang air mata Bunda.
Kini adik menyimpan tangis dalam  guraunya.
Dan Ayah pergi sudah tanpa sempat ku seka peluhnya.
Ada perempuan marah mengunci pintu kamarnya,
pergi membopong impian pada tandu di jiwanya.
Kemana perginya tawa senda?
Apa aku kurangi saja gula pada secangkir kopi?
Lalu ku pindahkan manisnya pada sesimpul senyum?

Kemana hilangnya bau surga?
Apa mesti aku terus berlari?
Atau kembali ke rumah yang telah kehilangan cinta?