Powered By Blogger

Monday, March 24, 2014

Memorabilia II


Oleh : Faqih Hindami

Di antara terik surya kita melangkah menyeruak masa.
Di siang hari kita menelanjangi memori yang terselip di antara kata.

Di jalan ini kita melihat masa lalu: dua  bocah dengan dahi yang dialiri peluh dan nafas  tersengal separuh, pernah berjalan gopoh memikul berat impian di pundak, melompati parit kecil, menyeberangi jembatan rapuh pada pertengahan hari.

Sejenak surya meringkuk di balik serdadu awan putih bagai kapas, menyisakan teduh
untuk kita mengenang sampai kenyang, tentang kelakar bocah-bocah di jalan, di selokan, di kolam, di sekolahan, di bawah rindang Ketapang yang daunnya gugur dan menderai dibawa angin, sebelum tawa dan gurau perlahan lenyap ditelan sore, dan mereka kembali, pulang ke rumah, menulis jalan terang untuk meraih kejora.

Surya berayun ke balik bukit-bukit, dimana nada-nada harmoni nan ceria tak lagi terdengar sejak kemarin petang. Nada-nada yang memperdengarkan emosi dan celoteh-celoteh mimpi ke telinga-telinga kita.

Surya mulai meredup sinarnya, mungkin lelah, tapi kita masih terus berjuang menyeruak masa, tanpa bicara, sebelum dinding besar tua menutup jalan kita. Dinding besar tua
yang membenturkan memorabilia ke wajah kita, tentang anak kecil yang menangis sambil tertawa, karna kemejanya sobek tersangkut besi-besi pagar.

Di ufuk barat, surya terbenam, seraya meninggalkan sandikala untuk kita nikmati
 di bingkai cakrawala. Lalu di tengah sunyi senja kita mendengar suara kenangan: sebuah gitar tua tengah dipetik dawainya, lembut, dan orang-orang mulai menyanyikan kidung tentang mimpi.

Entah mimpi yang hampir lenyap
Atau yang telah lama lenyap.

Sungailiat,
 Januari 2014

No comments:

Post a Comment