Oleh : Faqih Hindami
Di antara
terik surya kita melangkah menyeruak masa.
Di siang hari
kita menelanjangi memori yang terselip di antara kata.
Di jalan
ini kita melihat masa lalu: dua bocah
dengan dahi yang dialiri peluh dan nafas tersengal separuh, pernah berjalan gopoh
memikul berat impian di pundak, melompati parit kecil, menyeberangi jembatan
rapuh pada pertengahan hari.
Sejenak
surya meringkuk di balik serdadu awan putih bagai kapas, menyisakan teduh
untuk
kita mengenang sampai kenyang, tentang kelakar bocah-bocah di jalan, di
selokan, di kolam, di sekolahan, di bawah rindang Ketapang yang daunnya gugur
dan menderai dibawa angin, sebelum tawa dan gurau perlahan lenyap ditelan sore,
dan mereka kembali, pulang ke rumah, menulis jalan terang untuk meraih kejora.
Surya
berayun ke balik bukit-bukit, dimana nada-nada harmoni nan ceria tak lagi
terdengar sejak kemarin petang. Nada-nada yang memperdengarkan emosi dan
celoteh-celoteh mimpi ke telinga-telinga kita.
Surya
mulai meredup sinarnya, mungkin lelah, tapi kita masih terus berjuang menyeruak
masa, tanpa bicara, sebelum dinding besar tua menutup jalan kita. Dinding besar
tua
yang
membenturkan memorabilia ke wajah kita, tentang anak kecil yang menangis sambil
tertawa, karna kemejanya sobek tersangkut besi-besi pagar.
Di ufuk
barat, surya terbenam, seraya meninggalkan sandikala untuk kita nikmati
di bingkai cakrawala. Lalu di tengah sunyi
senja kita mendengar suara kenangan: sebuah gitar tua tengah dipetik dawainya,
lembut, dan orang-orang mulai menyanyikan kidung tentang mimpi.
Entah
mimpi yang hampir lenyap
Atau yang
telah lama lenyap.
Sungailiat,
Januari 2014

No comments:
Post a Comment