Oleh: Faqih Hindami
Ada isyarat yang tetap tidak
tersampaikan.
Menyesak di dada.
Dalam diam aku terus melirih hampa.
Berikan aku arti!
Agar peluh dan air mata betul-betul menetes demi mimpi.
Atau tidak demi apa-apa.
Tapi siapa pula yang mendengarku menderu?
Apa aku mesti membiarkan waktu bicara, tanpa aku harus berkata?
Menyesak di dada.
Dalam diam aku terus melirih hampa.
Berikan aku arti!
Agar peluh dan air mata betul-betul menetes demi mimpi.
Atau tidak demi apa-apa.
Tapi siapa pula yang mendengarku menderu?
Apa aku mesti membiarkan waktu bicara, tanpa aku harus berkata?
Depok,
11 Juni 2013

No comments:
Post a Comment