Malamku hilang terbang.
Diksiku lenyap tenggelam dalam
peluh.
Rapsodiku tak lagi berada.
Dan setangkai putih abadi pun
layu. Mati.
Seperti jiwaku yang berganti.
Semua ku tukar dengan sesal.
Pada buli yang orang lain
agungkan.
Hingga bebas ku terenggut.
Ucap, angan, dan seluruh
senjaku, pagiku,
semua tertahan pada satu
kekuasaan.
Hingga satu cintaku pergi
kar’nanya,
kursi bisu yang ku duduki
ini,
Sungailiat,
1 Agustus 2012

No comments:
Post a Comment