Oleh : Faqih Hindami
Aku kembali pada malam-malam terang. Beranjak dari ufuk timur kelam
sang permaisuri malam merauni langit. Sinarnya terpantul di mata serigala hutan.
Cumulus dan cirrus gelap mengiringnya.
Tangkai-tangkai Colorado Columbine berdansa, di bawah langit malam terbias benderang bulan, menebar aroma malam-malam kenangan. Angin mengangkatnya terbang, lalu menjatuhkannya pada satu ingatan. Tentang seorang bocah dengan kerling di matanya, duduk di bangku sebuah perpustakaan, bersama buku-buku usang dari almari, dan gadis kecil yang memantulkan cahaya purnama dari matanya duduk di sampingnya.
Aku berbaring di atas rumput-rumput basah yang melambai riang di bawah sinar terang.
Sesekali embun malam menampar-nampar wajahku. Bukit-bukit meniupkan kenangan ke jalan raya, kenangan tentang gadis periang yang mengabariku tentang satu cinta di suatu senja.
Bulan menutup diri di pucuk kering Flamboyan. Cahayanya mengintip ke dalam ruang kosong terkunci. Dulu peluh seorang bocah pernah jatuh ke lantainya, saat kegugupan habis menelan jiwanya. Angin luar saja enggan mengusapnya, ketika daun kering jatuh dari rantingnya, hingga cinta dari mata seorang gadis meyakinkannya.
Aku kembali pada malam-malam terang. Cukuplah kenangan itu mencemooh & menjilat pucat pasi wajahku. Dan biarkan udara malam jadi penafsir kata demi kata
pada kertas-kertas lusuh dengan tetes tinta hitam. Hingga pujian terucap pada sajak putih yang abadi.
Cukuplah kenangan itu mencemooh & menjilat pucat pasi wajahku
Biarkan udara malam jadi penafsir kata demi kata
pada kertas-kertas lusuh dengan tetes tinta hitam
sang permaisuri malam merauni langit. Sinarnya terpantul di mata serigala hutan.
Cumulus dan cirrus gelap mengiringnya.
Tangkai-tangkai Colorado Columbine berdansa, di bawah langit malam terbias benderang bulan, menebar aroma malam-malam kenangan. Angin mengangkatnya terbang, lalu menjatuhkannya pada satu ingatan. Tentang seorang bocah dengan kerling di matanya, duduk di bangku sebuah perpustakaan, bersama buku-buku usang dari almari, dan gadis kecil yang memantulkan cahaya purnama dari matanya duduk di sampingnya.
Aku berbaring di atas rumput-rumput basah yang melambai riang di bawah sinar terang.
Sesekali embun malam menampar-nampar wajahku. Bukit-bukit meniupkan kenangan ke jalan raya, kenangan tentang gadis periang yang mengabariku tentang satu cinta di suatu senja.
Bulan menutup diri di pucuk kering Flamboyan. Cahayanya mengintip ke dalam ruang kosong terkunci. Dulu peluh seorang bocah pernah jatuh ke lantainya, saat kegugupan habis menelan jiwanya. Angin luar saja enggan mengusapnya, ketika daun kering jatuh dari rantingnya, hingga cinta dari mata seorang gadis meyakinkannya.
Aku kembali pada malam-malam terang. Cukuplah kenangan itu mencemooh & menjilat pucat pasi wajahku. Dan biarkan udara malam jadi penafsir kata demi kata
pada kertas-kertas lusuh dengan tetes tinta hitam. Hingga pujian terucap pada sajak putih yang abadi.
Sungailiat,
Akhir Oktober 2011
Cukuplah kenangan itu mencemooh & menjilat pucat pasi wajahku
Biarkan udara malam jadi penafsir kata demi kata
pada kertas-kertas lusuh dengan tetes tinta hitam

No comments:
Post a Comment