Rapsodi : Dalam Hening Malam
Oleh :
Faqih Hindami
Pukul tujuh tepat.
Bersembunyi pada kelam malam.
Yang mewarnai langit timur
dengan rona merah.
Pujian terucap. Terpukau. Yang
ku nanti tiba jua.
Tiga puluh menit dari pukul
tujuh.
Bulan beranjak. Kuning dan
terang.
Bagai lelampu yang menyorot
dunia kita.
Di sisi bulan bekas laju
perahu yang terbang malam.
Tak jauh dari situ kerlipan
bintang merah kecil mengerdip nakal.
Aku duduk di teras rumah,
memisah diri
di antara kegelapan gang
kecil.
Seraya lagu-lagu tentang malam
ku mengalun,
aku menulis rapsodi tentang
bulan.
Sekali-kali lelampu kendaraan
memecah kegelapan.
dan dari aroma malam-malam
terang, kenangan cinta kita tiba-tiba datang.
Menebari ku lagi dengan
kerinduan.
Anganku terbang.
Membawa dirimu merauni langit
malam, menuju bulan
Seperti gadis forsaken.
Pukul delapan, tiga puluh
menit.
Bulan memisah diri dengan
seluruh kenangan malam.
Awan-awan gelap tidak lagi
kini.
Dan lampu-lampu jalan menyala.
Aku kembali ke dalam dan
menutup pintu depan.
Waktu berjalan, malam membuta.
Jam dinding di kamar bicara
padaku.
“Pukul dua belas tengah malam.
Cukuplah mengenang. Cukuplah
merindu.
Letakkan pena dan simpan buku
pada almari.
Waktunya lepaskan lelah, dan
lampu-lampu, padamkanlah.
Berbaring pada ranjang terbuka
dan lelaplah.
Lenyapkan rindu hari ini, dan
temui kasihmu esok hari.”
Sungailiat,
Malam, 21 Mei 2011

No comments:
Post a Comment