Oleh
: Faqih Hindami
Kehidupan
manusia dikelilingi oleh budaya, hal ini disebabkan karena manusia selalu
berupaya untuk mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan yang
mengharuskannya selalu bersinggungan dalam lingkungan sekitar, baik lingkungan
fisik dan non fisik.
Proses pembentukan budaya di atas berlangsung berabad-abad dan betul-betul teruji sehingga membentuk suatu komponen yang betul-betul handal, terbukti dan diyakini dapat membawa kesejahteraan lahir dan batin. Komponen inilah yang disebut dengan jati diri. Di dalam jati diri terkandung kearifan lokal (local wisdom) yang merupakan hasil dari Local Genius dari berbagai suku bangsa, kearifan lokal inilah seharusnya dirajut dalam satu kesatuan kebudayaan (Culture) untuk mewujudkan suatu bangsa yaitu, Bangsa Indonesia. Budaya dilahirkan beribu tahun yang lalu sejak manusia ada di Bumi. Kebiasaan yang bagai telah menjadi dan membentuk perilaku manusia tersebut diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Budaya itu sendiri merupakan suatu produk dari akal budi manusia, itu setidaknya apabila dilakukan pendekatan secara etimologi. Budaya dalam hal ini disebut kebudayaan sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Dalam pergiliran budaya antar generasi ini dibutuhkan adanya generasi perantara yang sudah mampu melakukan pemahaman dari generasi tua dan mampu mengkomunikasikan ke dalam bahasa yang ringan dan mudah dimengerti oleh generasi selanjutnya.
Proses pembentukan budaya di atas berlangsung berabad-abad dan betul-betul teruji sehingga membentuk suatu komponen yang betul-betul handal, terbukti dan diyakini dapat membawa kesejahteraan lahir dan batin. Komponen inilah yang disebut dengan jati diri. Di dalam jati diri terkandung kearifan lokal (local wisdom) yang merupakan hasil dari Local Genius dari berbagai suku bangsa, kearifan lokal inilah seharusnya dirajut dalam satu kesatuan kebudayaan (Culture) untuk mewujudkan suatu bangsa yaitu, Bangsa Indonesia. Budaya dilahirkan beribu tahun yang lalu sejak manusia ada di Bumi. Kebiasaan yang bagai telah menjadi dan membentuk perilaku manusia tersebut diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Budaya itu sendiri merupakan suatu produk dari akal budi manusia, itu setidaknya apabila dilakukan pendekatan secara etimologi. Budaya dalam hal ini disebut kebudayaan sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Dalam pergiliran budaya antar generasi ini dibutuhkan adanya generasi perantara yang sudah mampu melakukan pemahaman dari generasi tua dan mampu mengkomunikasikan ke dalam bahasa yang ringan dan mudah dimengerti oleh generasi selanjutnya.
Derasnya arus globalisasi, modernisasi dan
ketatnya puritanisme dikhawatirkan dapat mengakibatkan terkikisnya rasa
kecintaan terhadap kebudayaan lokal. Sehingga kebudayaan lokal yang merupakan
warisan leluhur telah terinjak-injak oleh budaya asing, tereliminasi di
kandangnya sendiri dan terlupakan oleh para pewarisnya, bahkan banyak pelajar
yang tak mengenali budaya daerahnya sendiri.
Para pelajar khususnya di Kepulauan Bangka
Belitung lebih bangga dengan budaya asing daripada budaya daerahnya sendiri. Hal ini
dibuktikan dengan adanya rasa bangga yang lebih pada diri mereka manakala menggunakan produk luar
negeri, dibandingkan jika menggunakan produk bangsanya sendiri. Mereka cenderung lebih bangga
dengan karya-karya asing, dan gaya hidup yang kebarat-baratan dibandingkan
dengan kebudayaan lokal di daerah mereka sendiri. Slogan “aku cinta produk lokal. aku
cinta buatan Indonesia” sepertinya hanya menjadi ucapan belaka, tanpa ada langkah nyata yang mengikuti
pernyataan tersebut.
Penggunaan bahasa asing di media massa dan media elektronik bukan tidak
mungkin menyebabkan kecintaan pada nilai budaya lokal mulai pudar. Padahal, bahasa
sebagai alat dalam menyampaikan pembelajaran sangat besar pengaruhnya terhadap
pembentukan karakter pelajar.
Tidak ada lagi tradisi yang seharusnya
terwariskan dari generasi sebelumnya. Modernisme mengikis budaya lokal
menjadi kebarat-baratan, sedangkan puritanisme sering menganggap budaya sebagai
praktik sinkretis yang harus dihindari. Menurut penulis, sepanjang tidak bertentangan
dengan agama, budaya lokal harus selalu dibangun untuk membangkitkan karakter
anak bangsa. Padahal, jika kita pahami dan pelajari mengenai
kebudayaan lokal di daerah tidak kalah saing dengan budaya-budaya asing yang
tidak kita kenal. Negara asing saja mau berselisih untuk mengakui budaya kita. Bukankah seharusnya kita bangga dengan budaya
lokal yang telah diwariskan kepada kita generasi pelurus perjuangan bangsa?
Dengan keadaan yang seperti ini perlu ditanamkan nilai-nilai nasionalisme
kepada para pelajar
untuk meningkatkan kecintaan pelajar
terhadap kebudayaan lokal.
Maka, sangat diperlukan
langkah strategis untuk meningkatkan rasa cinta dan peduli terhadap kearifan
budaya lokal kepada para pelajar di kepulauan Bangka Belitung.
Kebudayaan lokal merupakan kebudayaan yang sangat
dijunjung tinggi oleh masyarakat adat, terutama
masyarakat di kepulauan Bangka Belitung. Namun yang terjadi pada pelajar di Bangka Belitung sangat berbeda dengan apa yang kita
pahami tentang kebudayaan lokal, bahkan kebudayaan itu sudah terkikis dan
tergantikan oleh budaya asing yang sama sekali tidak kita pahami.
Agar eksistensi budaya Bangka Belitung tetap kukuh, maka
kepada generasi penerus
dan pelurus perjuangan bangsa perlu ditanamkan rasa cinta
terhadap kebudayaan lokal khususnya di daerah.
Salah satu cara yang dapat ditempuh
di
sekolah adalah dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kearifan budaya lokal dalam proses
pembelajaran, ekstra
kurikuler, atau kegiatan kesiswaan di sekolah. Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal
haruslah diaplikasikan dengan optimal.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman
nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan,
kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut,
baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan,
maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan
karakter di sekolah,
semua komponen (stakeholders) harus
dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan
atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas
atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan
ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Karakter
merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha
Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud
dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Karakter merupakan
representasi identitas seseorang yang menunjukkan ketundukannya pada aturan
atau standar moral yang berlaku dan merefleksikan pikiran, perasaan dan
sikap batinnya yang termanifestasi dalam kebiasaan berbicara, bersikap dan
bertindak.
Pendidikan
karakter dapat dimaknai sebagai upaya mendorong para pelajar tumbuh dan berkembang
dengan kompetensi berfikir dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dalam
hidupnya serta mempunyai keberanian melakukan yang benar, meskipun dihadapkan
pada berbagai tantangan. Pendidikan
karakter tidak terbatas pada transfer pengetahuan mengenai nilai-nilai yang
baik, tetapi menjangkau bagaimana memastikan nilai-nilai tersebut tetap tertanam dan menyatu dalam totalitas pikiran serta tindakan.
Kearifan
lokal merupakan akumulasi dari pengetahuan dan kebijakan yang tumbuh dan
berkembang dalam sebuah komunitas yang merepresentasikan perspektif teologis,
kosmologis dan sosiologisnya.
Upaya
membangun karakter pelajar berbasis kearifan budaya lokal sejak dini melalui
jalur pendidikan dianggap sebagai langkah yang tepat. Sekolah
merupakan lembaga formal yang menjadi peletak dasar pendidikan. Pendidikan di Sekolah merupakan bagian dari sistem
pendidikan nasional yang memiliki peranan yang amat penting dalam meningkatkan
sumber daya manusia. Melalui pendidikan di Sekolah diharapkan akan menghasilkan
manusia Indonesia yang berkualitas.
Jika menilik pada tujuan pendidikan nasional di atas, maka manusia yang
berkualitas tidak hanya terbatas pada tataran kognitif, tetapi juga afektif dan
psikomotor. Pada
praktiknya, mata pelajaran muatan
lokal dipandang merupakan pelajaran kelas nomor dua dan hanya dianggap sebagai pelengkap.
Sekolah-sekolah menerapkannya sebatas formalitas untuk memenuhi tuntutan
kurikulum yang dituangkan dalam berbagai peraturan. Kondisi demikian
mengindikasikan aplikasi pengajaran
muatan lokal di sekolah masih mengambang. Persoalannya adalah bagaimana penerapan konsep pendidikan karakter
yang sudah dimasukkan ke dalam kurikulum tersebut.
Hal penting yang mendasari pendidikan karakter di
sekolah adalah penanaman nilai karakter bangsa tidak akan berhasil
melalui pemberian informasi dan
doktrin belaka. Karakter bangsa
yang berbudi luhur, sopan santun, ramah tamah, gotong royong, disiplin, taat
aturan yang berlaku dan sebagainya, perlu metode pembiasaan dan keteladanan
dari semua unsur pendidikan di sekolah. Semua stakeholder pendidikan diharapkan andilnya dalam memberikan kontribusi
nyata terhadap pelestarian kebudayaan lokal di daerah khusunya bagi kalangan pelajar
sebagai penerus budaya bangsa. Pemberian pengarahan dan penghargaan kepada para
guru juga dianggap perlu dalam upaya memotivasi dan meningkatkan pemahaman para
guru dalam mengaplikasikan serta memberikan teladan mengenai Pendidikan
Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal.
Contoh implementasi kecil yang
dapat kita realisasikan di sekolah misalnya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan
kesiswaan yang menekankan pada pengenalan budaya lokal yang
isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan
sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah setempat yang
perlu diajarkan kepada para
pemuda. Pengadaan sanggar seni budaya di sekolah-sekolah
sebagai sarana merealisasikan bakat dan sebagai hiburan para pelajar, juga
dipandang perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaan para pelajar pada
kebudayaan lokal di daerahnya sendiri, khususnya di Bangka Belitung.
Permainan-permainan tradisional di Kepulauan Bangka Belitung yang hampir hilang
juga harus diekspos kembali. Gasing, misalnya. Sebagai permainan tradisional,
gasing dapat membawa banyak manfaat dan perlu dilestarikan karena mengandung
nilai sejarah, dapat dijadikan simbol atau maskot daerah, dijadikan cabang
olahraga yang dapat diukur dengan skor dan prestasi dan mengandung nilai seni.
Dan masih banyak lagi permainan-permainan tradisional yang mengandung unsur
kekompakan tim, kejujuran, dan mengolah otak selain berfungsi sebagai hiburan
juga untuk menanamkan kecintaan pelajar pada budaya lokal di daerah.
Selain itu,
penggunaan bahasa lokal (bahasa Melayu Bangka) perlu diaplikasikan paling tidak
satu hari dalam enam hari proses pembelajaran di sekolah. Dimana dalam satu
hari tersebut seluruh warga sekolah hanya menggunakan bahasa daerah sebagai
bahasa pengantar. Disamping itu, diharapkan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler
berbasis kebudayaan lokal mulai diadakan di sekolah-sekolah. Kegiatan seperti
perlombaan majalah dinding sekolah, dengan isi yang menekankan pengenalan budaya lokal, lomba
cerdas cermat antar pelajar mengenai lingkungan sosial dan
lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah setempat, dan sebagainya.
Contoh
implementasi lainnya yang dapat kita terapkan di luar sekolah adalah dengan
aktif mengadakan seminar (workshop)
tentang pendidikan karakter dan kearifan budaya lokal kepada para pelajar di
Bangka Belitung. Tentunya serangkaian kegiatan tersebut dapat dilaksanakan
dengan metode yang sesuai dengan gaya remaja masa kini agar lebih menarik dan
terkesan tidak kuno. Pendirian komunitas pelajar peduli budaya juga dapat
menjadi inovasi dan memberikan motivasi bagi para pelajar dalam menerapkan pendidikan
karakter berbasis kearifan budaya lokal. Disamping itu, tradisi-tradisi yang
menekankan pada kegotong royongan dianggap perlu diaplikasikan dan disisipkan
pada kegiatan-kegiatan kesiswaan di sekolah. Misalnya, tradisi Nganggung
(tradisi gotong royong masyarakat Bangka Belitung dengan membawa makanan tradisional
di atas dulang dan ditutup dengan tudung saji) dapat dilaksanakan ketika acara
Halal Bi Halal selepas perayaan Idul Fitri atau hari-hari besar agama lainnya.
Kemudian,
untuk mendukung proses pembelajaran para pelajar terhadap sejarah dan
kebudayaan lokal di Bangka Belitung, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dituntut
dapat bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk mendirikan museum sejarah
kebudayaan Bangka Belitung dan wahana handicraft
yang berisikan pernak-pernik kerajinan tangan hasil karya pelajar Bangka
Belitung.
Selain
untuk memperkenalkan kebudayaan lokal terhadap kaum pelajar di Bangka Belitung,
pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal juga memiliki tujuan
mengubah sikap dan juga perilaku sumber daya manusia yang ada agar dapat
meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa
yang akan datang. Manfaat dari penerapan budaya yang baik juga dapat
meningkatkan jiwa gotong royong, kebersamaan, saling terbuka satu sama lain, menumbuhkembangkan
jiwa kekeluargaan, membangun komunikasi yang lebih baik, serta tanggap dengan
perkembangan dunia luar.
Potensi yang pada kaum pelajar
yang bersatu bila digunakan dengan baik untuk melestarikan kebudayaan lokal, niscaya dari serpihan-serpihan budaya lokal
tersebut akan terwujudnya kebudayaan yang dapat
menjadi mercusuar bagi kebudayaan nusantara.
Budaya merupakan source yang takkan habis apabila dapat dilestarikan dengan optimal. Selain itu,
apabila negara menginginkan profit jangka panjang, alternatif jawabannya
adalah lestarikan budaya dengan menggunakan potensi yang dimiliki pelajar tentunya tanpa
melupakan peran serta golongan tua.
Saatnya kita
memperkenalkan dan menerapkan kembali kebudayaan lokal kita yang telah lama
terlupakan dan meninggalkan budaya asing yang sejatinya sangat tidak
sesuai dengan budaya Indonesia. Kenapa kita
mesti malu mengakui budaya sendiri, sedangkan orang asing saja mau berselisih
untuk mengakui budaya kita dan memperkenalkannya kepada dunia sebagai budaya
mereka? Jadi,
bukankah kita mestinya bangga dengan apa yang kita miliki dan
memperlihatkan kepada dunia bahwa inilah
budaya daerahku.
Faqih
Hindami
SMA Negeri
1 Sungailiat
Sungailiat,
Bangka, Prov Kep. Bangka Belitung

No comments:
Post a Comment