Powered By Blogger

Friday, January 11, 2013

Essai : Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal

Oleh : Faqih Hindami

Kehidupan manusia dikelilingi oleh budaya, hal ini disebabkan karena manusia selalu berupaya untuk mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan yang mengharuskannya selalu bersinggungan dalam lingkungan sekitar, baik lingkungan fisik dan non fisik.
Proses pembentukan budaya di atas berlangsung berabad-abad dan betul-betul teruji sehingga membentuk suatu komponen yang betul-betul handal, terbukti dan diyakini dapat membawa kesejahteraan lahir dan batin. Komponen inilah yang disebut dengan jati diri. Di dalam jati diri terkandung kearifan lokal (local wisdom) yang merupakan hasil dari Local Genius dari berbagai suku bangsa, kearifan lokal inilah seharusnya dirajut dalam satu kesatuan kebudayaan (Culture) untuk mewujudkan suatu bangsa yaitu, Bangsa Indonesia. Budaya dilahirkan beribu tahun yang lalu sejak manusia ada di Bumi. Kebiasaan yang bagai telah menjadi dan membentuk perilaku manusia tersebut diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Budaya itu sendiri merupakan suatu produk dari akal budi manusia, itu setidaknya apabila dilakukan pendekatan secara etimologi. Budaya dalam hal ini disebut kebudayaan sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Dalam pergiliran budaya antar generasi ini dibutuhkan adanya generasi perantara yang sudah mampu melakukan pemahaman dari generasi tua dan mampu mengkomunikasikan ke dalam bahasa yang ringan dan mudah dimengerti oleh generasi selanjutnya.
Derasnya arus globalisasi, modernisasi dan ketatnya puritanisme dikhawatirkan dapat mengakibatkan terkikisnya rasa kecintaan terhadap kebudayaan lokal. Sehingga kebudayaan lokal yang merupakan warisan leluhur telah terinjak-injak oleh budaya asing, tereliminasi di kandangnya sendiri dan terlupakan oleh para pewarisnya, bahkan banyak pelajar yang tak mengenali budaya daerahnya sendiri.
Para pelajar khususnya di Kepulauan Bangka Belitung lebih bangga dengan budaya asing daripada budaya daerahnya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan adanya rasa bangga yang lebih pada diri mereka manakala menggunakan produk luar negeri, dibandingkan jika menggunakan produk bangsanya sendiri. Mereka cenderung lebih bangga dengan karya-karya asing, dan gaya hidup yang kebarat-baratan dibandingkan dengan kebudayaan lokal di daerah mereka sendiri. Slogan “aku cinta produk lokal. aku cinta buatan Indonesia” sepertinya hanya menjadi ucapan belaka, tanpa ada langkah nyata yang mengikuti pernyataan tersebut. Penggunaan bahasa asing di media massa dan media elektronik bukan tidak mungkin menyebabkan kecintaan pada nilai budaya lokal mulai pudar. Padahal, bahasa sebagai alat dalam menyampaikan pembelajaran sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter pelajar.  Tidak ada lagi tradisi yang seharusnya terwariskan dari generasi sebelumnya. Modernisme mengikis budaya lokal menjadi kebarat-baratan, sedangkan puritanisme sering menganggap budaya sebagai praktik sinkretis yang harus dihindari. Menurut penulis, sepanjang tidak bertentangan dengan agama, budaya lokal harus selalu dibangun untuk membangkitkan karakter anak bangsa. Padahal, jika kita pahami dan pelajari mengenai kebudayaan lokal di daerah tidak kalah saing dengan budaya-budaya asing yang tidak kita kenal. Negara asing saja mau berselisih untuk mengakui budaya kita. Bukankah seharusnya kita bangga dengan budaya lokal yang telah diwariskan kepada kita generasi pelurus perjuangan bangsa? Dengan keadaan yang seperti ini perlu ditanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada para pelajar untuk meningkatkan kecintaan pelajar terhadap kebudayaan lokal. Maka, sangat diperlukan langkah strategis untuk meningkatkan rasa cinta dan peduli terhadap kearifan budaya lokal kepada para pelajar di kepulauan Bangka Belitung.
Kebudayaan lokal merupakan kebudayaan yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat adat, terutama masyarakat di kepulauan Bangka Belitung. Namun yang terjadi pada pelajar di Bangka Belitung sangat berbeda dengan apa yang kita pahami tentang kebudayaan lokal, bahkan kebudayaan itu sudah terkikis dan tergantikan oleh budaya asing yang sama sekali tidak kita pahami.
Agar eksistensi budaya Bangka Belitung tetap kukuh, maka kepada generasi penerus dan pelurus perjuangan bangsa perlu ditanamkan rasa cinta terhadap kebudayaan lokal khususnya di daerah. Salah satu cara yang dapat ditempuh di sekolah adalah dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kearifan budaya lokal dalam proses pembelajaran, ekstra kurikuler, atau kegiatan kesiswaan di sekolah. Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal haruslah diaplikasikan dengan optimal.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
Karakter merupakan representasi identitas seseorang yang menunjukkan ketundukannya pada aturan atau standar moral yang berlaku dan  merefleksikan pikiran, perasaan dan sikap batinnya yang termanifestasi dalam kebiasaan berbicara, bersikap dan bertindak.
Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai upaya mendorong para pelajar tumbuh dan berkembang dengan kompetensi berfikir dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dalam hidupnya serta mempunyai keberanian melakukan yang benar, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Pendidikan karakter tidak terbatas pada transfer pengetahuan mengenai nilai-nilai yang baik, tetapi menjangkau bagaimana memastikan nilai-nilai tersebut tetap tertanam dan menyatu dalam totalitas pikiran serta tindakan.
Kearifan lokal merupakan akumulasi dari pengetahuan dan kebijakan yang tumbuh dan berkembang dalam sebuah komunitas yang merepresentasikan perspektif teologis, kosmologis dan sosiologisnya.
Upaya membangun karakter pelajar berbasis kearifan budaya lokal sejak dini melalui jalur pendidikan dianggap sebagai langkah yang tepat. Sekolah merupakan lembaga formal yang menjadi peletak dasar pendidikan. Pendidikan di Sekolah merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional yang memiliki peranan yang amat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia. Melalui pendidikan di Sekolah diharapkan akan menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas. Jika menilik pada tujuan pendidikan nasional di atas, maka manusia yang berkualitas tidak hanya terbatas pada tataran kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotor. Pada praktiknya, mata pelajaran muatan lokal dipandang merupakan pelajaran kelas nomor dua dan hanya dianggap sebagai pelengkap. Sekolah-sekolah menerapkannya sebatas formalitas untuk memenuhi tuntutan kurikulum yang dituangkan dalam berbagai peraturan. Kondisi demikian mengindikasikan aplikasi pengajaran muatan lokal di sekolah masih mengambang.  Persoalannya adalah bagaimana penerapan konsep pendidikan karakter yang sudah dimasukkan ke dalam kurikulum tersebut.
Hal penting yang mendasari pendidikan karakter di sekolah adalah penanaman nilai karakter bangsa tidak akan berhasil melalui pemberian informasi dan doktrin belaka. Karakter bangsa yang berbudi luhur, sopan santun, ramah tamah, gotong royong, disiplin, taat aturan yang berlaku dan sebagainya, perlu metode pembiasaan dan keteladanan dari semua unsur pendidikan di sekolah. Semua stakeholder pendidikan diharapkan andilnya dalam memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian kebudayaan lokal di daerah khusunya bagi kalangan pelajar sebagai penerus budaya bangsa. Pemberian pengarahan dan penghargaan kepada para guru juga dianggap perlu dalam upaya memotivasi dan meningkatkan pemahaman para guru dalam mengaplikasikan serta memberikan teladan mengenai Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal.
Contoh implementasi kecil yang dapat kita realisasikan di sekolah misalnya dengan mengadakan kegiatan-kegiatan kesiswaan yang menekankan pada pengenalan budaya lokal yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah setempat yang perlu diajarkan kepada para pemuda. Pengadaan sanggar seni budaya di sekolah-sekolah sebagai sarana merealisasikan bakat dan sebagai hiburan para pelajar, juga dipandang perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan kecintaan para pelajar pada kebudayaan lokal di daerahnya sendiri, khususnya di Bangka Belitung. Permainan-permainan tradisional di Kepulauan Bangka Belitung yang hampir hilang juga harus diekspos kembali. Gasing, misalnya. Sebagai permainan tradisional, gasing dapat membawa banyak manfaat dan perlu dilestarikan karena mengandung nilai sejarah, dapat dijadikan simbol atau maskot daerah, dijadikan cabang olahraga yang dapat diukur dengan skor dan prestasi dan mengandung nilai seni. Dan masih banyak lagi permainan-permainan tradisional yang mengandung unsur kekompakan tim, kejujuran, dan mengolah otak selain berfungsi sebagai hiburan juga untuk menanamkan kecintaan pelajar pada budaya lokal di daerah.
Selain itu, penggunaan bahasa lokal (bahasa Melayu Bangka) perlu diaplikasikan paling tidak satu hari dalam enam hari proses pembelajaran di sekolah. Dimana dalam satu hari tersebut seluruh warga sekolah hanya menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar. Disamping itu, diharapkan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler berbasis kebudayaan lokal mulai diadakan di sekolah-sekolah. Kegiatan seperti perlombaan majalah dinding sekolah, dengan isi yang menekankan pengenalan budaya lokal, lomba cerdas cermat antar pelajar mengenai lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah setempat, dan sebagainya.
Contoh implementasi lainnya yang dapat kita terapkan di luar sekolah adalah dengan aktif mengadakan seminar (workshop) tentang pendidikan karakter dan kearifan budaya lokal kepada para pelajar di Bangka Belitung. Tentunya serangkaian kegiatan tersebut dapat dilaksanakan dengan metode yang sesuai dengan gaya remaja masa kini agar lebih menarik dan terkesan tidak kuno. Pendirian komunitas pelajar peduli budaya juga dapat menjadi inovasi dan memberikan motivasi bagi para pelajar dalam menerapkan pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal. Disamping itu, tradisi-tradisi yang menekankan pada kegotong royongan dianggap perlu diaplikasikan dan disisipkan pada kegiatan-kegiatan kesiswaan di sekolah. Misalnya, tradisi Nganggung (tradisi gotong royong masyarakat Bangka Belitung dengan membawa makanan tradisional di atas dulang dan ditutup dengan tudung saji) dapat dilaksanakan ketika acara Halal Bi Halal selepas perayaan Idul Fitri atau hari-hari besar agama lainnya.
Kemudian, untuk mendukung proses pembelajaran para pelajar terhadap sejarah dan kebudayaan lokal di Bangka Belitung, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dituntut dapat bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk mendirikan museum sejarah kebudayaan Bangka Belitung dan wahana handicraft yang berisikan pernak-pernik kerajinan tangan hasil karya pelajar Bangka Belitung.
Selain untuk memperkenalkan kebudayaan lokal terhadap kaum pelajar di Bangka Belitung, pendidikan karakter berbasis kearifan budaya lokal juga memiliki tujuan mengubah sikap dan juga perilaku sumber daya manusia yang ada agar dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang. Manfaat dari penerapan budaya yang baik juga dapat meningkatkan jiwa gotong royong, kebersamaan, saling terbuka satu sama lain, menumbuhkembangkan jiwa kekeluargaan, membangun komunikasi yang lebih baik, serta tanggap dengan perkembangan dunia luar.
Potensi yang pada kaum pelajar yang bersatu bila digunakan dengan baik untuk melestarikan kebudayaan lokal, niscaya dari serpihan-serpihan budaya lokal tersebut akan terwujudnya kebudayaan yang dapat menjadi mercusuar bagi kebudayaan nusantara.
Budaya merupakan source yang takkan habis apabila dapat dilestarikan dengan optimal. Selain itu, apabila negara menginginkan profit jangka panjang, alternatif jawabannya adalah lestarikan budaya dengan menggunakan potensi yang dimiliki pelajar tentunya tanpa melupakan peran serta golongan tua.
Saatnya kita memperkenalkan dan menerapkan kembali kebudayaan lokal kita yang telah lama terlupakan  dan meninggalkan budaya asing yang sejatinya sangat tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Kenapa kita mesti malu mengakui budaya sendiri, sedangkan orang asing saja mau berselisih untuk mengakui budaya kita dan memperkenalkannya kepada dunia sebagai budaya mereka? Jadi, bukankah kita mestinya bangga dengan apa yang kita miliki dan memperlihatkan kepada dunia bahwa inilah budaya daerahku.


Faqih Hindami
SMA Negeri 1 Sungailiat
Sungailiat, Bangka, Prov Kep. Bangka Belitung

No comments:

Post a Comment