Oleh: Faqih Hindami
Seorang pria tua disorot nyala-nyala lelampu
sofa.
Resah, gerah, bolak-balik berlari marah-marah, ia menyebut dan mengutuk
sebuah nama yang tidak kita kenal.
Di hadapnya kita diam, di antara kelam ruang.
Seorang pria tua disorot nyala-nyala lelampu.
Ia berhenti berlari setelah sempat menyadari:
“Kenapa kita terus mencari gelas, padahal airlah yang kita minum?” Ia sempat
terbahak.
Sedang kita menyaksikan, di antara kelam ruang.
Depok,
13 Februari
2014

No comments:
Post a Comment