Powered By Blogger

Monday, March 24, 2014

Di Sebuah Pentas


Oleh: Faqih Hindami

Seorang pria tua disorot nyala-nyala lelampu
Diantara meja, kursi, pintu yang goyah dan dua orang dara tengah duduk di
sofa.
Resah, gerah, bolak-balik berlari marah-marah, ia menyebut dan mengutuk
sebuah nama yang tidak kita kenal.
Di hadapnya kita diam, di antara kelam ruang.



Seorang pria tua disorot nyala-nyala lelampu.

Ia berhenti berlari setelah sempat menyadari:
“Kenapa kita terus mencari gelas, padahal airlah yang kita minum?” Ia sempat
terbahak.
Sedang kita menyaksikan, di antara kelam ruang.




Depok,

13 Februari 2014

No comments:

Post a Comment