Oleh : Faqih Hindami
Adalah aku yang mengabaikan sabda.
Yang membiarkan saja jatuh air mata.
Adalah mataku yang terlena megah dunia.
Meski surya usiamu mendekati cakrawala senja.
Adalah tawamu yang menyejukkan jiwa.
Yang memberi arti hingga maaf menjadi bermakna.
Adalah senyummu yang menjadi pendar cahaya.
Dan ucapanmu yang menjelma doa.
Adalah peluhmu yang membungkam dunia.
Karna menyulap setiap mimpi menjadi nyata.
