Powered By Blogger

Monday, March 24, 2014

Bait Buat Bunda


Oleh : Faqih Hindami


Adalah aku yang mengabaikan sabda.
Yang membiarkan saja jatuh air mata.


Adalah mataku yang terlena megah dunia.
Meski surya usiamu mendekati cakrawala senja.


Adalah tawamu yang menyejukkan jiwa.
Yang memberi arti hingga maaf menjadi bermakna.


Adalah senyummu yang menjadi pendar cahaya.
Dan ucapanmu yang menjelma doa.

Adalah peluhmu yang membungkam dunia.
Karna menyulap setiap mimpi menjadi nyata.

surat cinta (untuk dirimu yang disayangi waktu)



Untuk dirimu yang disayangi waktu,
Terlalu sayang waktu padamu hingga tidak mengizinkanku memeluk matamu meski satu senja saja.

………………*sensor*……………



Sebagai pembuka, aku ingin meminta maaf. Karna yang akan kau baca bukan kata-kata indah yang mengalir dari tinta-tinta pena pemuisi cinta. Sebab aku bukan penyair yang pandai merangkai syair-syair megah. Bukan juga pujangga yang piawai menulis diksi-diksi indah untuk menyebut cinta. Yang bisa ku perbuat hanya mengumbar yang ku pendam dalam hati di atas kertas-kertas suci melalui tetes tinta hitam.

Maaf. Bukannya tidak ingin mencurahkan segalanya dengan langsung bicara. Tapi mata beningmu selalu menyulap hembus angin hangat menjadi sejuk, menggembok erat bibirku, lalu memutus saluran pengalir kata ke lidahku. Sehingga terperangah saja aku oleh tatap mata.

Sunday, March 9, 2014

Kelana

Oleh: Faqih Hindami

Bersama mimpi aku melintas mendaki.
Dengan sayap waktu aku terbang tinggi.
Di luar sana angin menghembus menghempas nyali.
Meniupi wajah dengan segala dusta & emosi.
Dalam hidup tak tau apa yang dicari.
Sedang tak ada yg dapat diterka lagi.
Tak ingin aku menahan diri dan kembali.

Cuma menyerahkan hati buat dicaci,
atau memintal kata hanya untuk dicerca.

Jika hidup adalah kelana, entah kemana aku mesti mengembara.
Jika sahabat saja sudah memelihara serigala di dadanya,
lalu membungkus taring dengan senyum dibibirnya.
Dan kekasih yang menghadiahkan kado semu cinta tak lagi setia,
karna muak membaca kisah romantika yang tak pernah bisa diterka.
Tapi di rumah, Bunda menawarkan cinta dibalik pintu surga.
Menabur doa dibawah langit malam buta.
Entah apa yang mesti ku bawa ke ujung masa.
Atau ku tanggalkan saja semua dan kembali ke rangkulanNya.
 

Isyarat



Oleh: Faqih Hindami

Ada isyarat yang tetap tidak tersampaikan.
Menyesak di dada.
Dalam diam aku terus melirih hampa.
Berikan aku arti!
Agar peluh dan air mata betul-betul menetes demi mimpi.
Atau tidak demi apa-apa.

Tapi siapa pula yang mendengarku menderu?
Apa aku mesti membiarkan waktu bicara, tanpa aku harus berkata?

Tangis Bocah

Oleh: Faqih Hindami



Ini bocah menangis jua.
Habis mengorek kuping congeknya hingga berdarah.
Telah lama aku mengabaikan cerita tentang air mata Bunda.
Kini adik menyimpan tangis dalam  guraunya.
Dan Ayah pergi sudah tanpa sempat ku seka peluhnya.
Ada perempuan marah mengunci pintu kamarnya,
pergi membopong impian pada tandu di jiwanya.
Kemana perginya tawa senda?
Apa aku kurangi saja gula pada secangkir kopi?
Lalu ku pindahkan manisnya pada sesimpul senyum?

Kemana hilangnya bau surga?
Apa mesti aku terus berlari?
Atau kembali ke rumah yang telah kehilangan cinta?


Friday, February 21, 2014

Secangkir Pagi yang Manis untuk Kita Kenang


Oleh: Faqih Hindami

Sinar surya masih sembunyi.
Kala kakiku menapak menelanjangi sunyi.
Semilir angin mendekap tubuhku erat.
Dan aku masih sendiri menyesap kesejukan pagi.
Sebelum kau datang padaku bersama senandung megah itu.

"Apa yang waktu telah suguhkan untukmu?" tanyamu ketika itu.
"Secangkir pagi yang manis untuk kita kenang," jawabku.

Lonceng Biru



Oleh : Faqih Hindami
 
Waktu berganti.
Tiap detaknya memendam  arti.
Dan kau tetap belum mengerti.
Tentang lonceng biru dalam peti.
Yang mencintaimu dalam hati.
Sedang dentangnya tak mau mati.

Mendung



Oleh : Faqih Hindami


Duka mengapung, di bawah rintik hujan tak terhitung.
Hingga jauh laut penghujung, aku mendayung.
Di luar sana cuma mendung. Cuma kelam merundung.

Tertatih perempuan bertudung, dengan duka di punggung.
Memulung kebenaran, namun tersandung.
Ke langit mendung sana tangannya mengacung.
Hendak menampung harap yang belum rampung.

Di bawah mendung, tikus-tikus malah riang bersenandung.
Di atas panggung, dadanya luas membusung.
Disanjung, hingga hatinya terkurung.

Seketika hujan menarikku merenung.
Siapa menanggung? Siapa terpasung?
Sedang hidup cuma butuh satu jantung.

Bingung.
Yang tahu, hanya urung, diam mematung.
Bagai dibenam dalam palung.
Ah!

Bukan Pisuh



Oleh : Faqih Hindami


Riuh.
Malam biar berpeluh.
Ini hati berontak rusuh.
Ingin gapai hatimu rapuh.
Raih cinta meski lusuh.
Tak luluh meski beribu misuh.
Ah, jenuh.

Sajak Bisu, Sajak Sendu



Oleh : Faqih Hindami


Sajakku sajak bisu,
Sajak rindu yang mengunci tegar jarak kita dan masa.

Tiada yang tau apa yang memenuhi jiwa ini.
Aku cuma jenuh menjadi pemuja misteri,
kalau hatimu saja memilih buta dan mengabaikan setiap huruf dalam baris sajak.

Matamu cukup dekat untuk menunjukiku jalan harap di sudut lorong, dan aku tak perlu menjatuhkan peluh ke tanah untuk melangkahi terjal mencuri manis senyummu.
Tapi, rasanya jarak hati kita terlampau jauh untuk dicapai masa.

Sajakku sajak sendu,
Sajak romantika yang menakar waktu menunggu temu.

Tiada yang tau apa yang memenuhi jiwa ini.
Aku hanya lelah cuma menjadi penuai sajak cinta untuk lembar epilog-mu.
Aku ingin menjadi malaikat di surga kecilmu, menjadi pujangga di pondok memorimu,
lalu denganmu menelusuri sabana dan taman bunga di utara.

Kalau jemariku ini jarum waktu, sudah lama ku rangkai detik, ku rombak tentu pintalan menit, agar tak ada yang perlu memanjakan masa.
Karna aku tak ingin kau lenyap dari mimpi ketika takdir mulai menyerah dengan waktu,
sedang cintaku lebih kekal dari janji.

Monday, January 28, 2013

Hening Malam di Pantai

Oleh : Faqih Hindami

Gelombang berteriak gaduh
Merusuh kelam hati
Anak Adam dengan rindu duduk di atas pemecah gelombang
Mengadu pada terang bulan
Cukup kerlip bintang jadi kawan sepi