Untuk
dirimu yang disayangi waktu,
Terlalu sayang waktu padamu hingga tidak mengizinkanku memeluk matamu meski satu senja saja.
Terlalu sayang waktu padamu hingga tidak mengizinkanku memeluk matamu meski satu senja saja.
………………*sensor*……………
Sebagai
pembuka, aku ingin meminta maaf. Karna yang akan kau baca bukan kata-kata indah
yang mengalir dari tinta-tinta pena pemuisi cinta. Sebab aku bukan penyair yang
pandai merangkai syair-syair megah. Bukan juga pujangga yang piawai menulis
diksi-diksi indah untuk menyebut cinta. Yang bisa ku perbuat hanya mengumbar
yang ku pendam dalam hati di atas kertas-kertas suci melalui tetes tinta hitam.
Maaf.
Bukannya tidak ingin mencurahkan segalanya dengan langsung bicara. Tapi mata
beningmu selalu menyulap hembus angin hangat menjadi sejuk, menggembok erat
bibirku, lalu memutus saluran pengalir kata ke lidahku. Sehingga terperangah
saja aku oleh tatap mata.
Aku
tak tahu darimana aku mesti mulai bercerita, karna sungguh tak tahu apa yang
membuat hatiku terus menderu cinta. Entah karna matamu yang bening seperti
telaga surga, atau senyum manismu yang menjadikan beku segalanya. Ah, entahlah.
Yang ku coba mengerti, cinta adalah realita hati yang menghidupkan fenomena
jiwa pada orang yang dicinta. Maka, aku tidak mencintaimu karna kau indah. Tapi, kau indah karna aku mencintaimu.
Sejak
dulu aku terus menjadi pemuja rahasia. Karna kau adalah bidadari yang datang
dari keterasingan lantas enggan aku ungsikan. Di setiap sandikala senja, aku
ingin kau selalu menatap langit yang sama denganku. Sebab, aku selalu
mengirimkan untai-untai doa untukmu melalui rona-rona jingganya.
Aku
tak tahu lagi ke hati mana akan mengukir romantika cinta. Apa aku mesti
menelusuri jalan-jalan Roma, atau menjelajah malam-malam di bawah lampu-lampu
Eiffel di Paris hanya untuk mencuri kisah romantis, sedang cuma senyummu yang
dapat menebari kisahku dengan romantika yang manis?
Aku
tak ingin dengar siapa yang tengah kau suka. Karna bagaimana pun aku akan tetap
mencinta. Lagipula tak bisa aku menjelajah cinta di hati yang lain. Sebab, kau
adalah penjelajah pertama semesta hatiku, dan aku cuma punya kau untuk dicinta.
Akhirnya,
dengan segala kesederhanaan dan kekurangan tanpa ku topengi wajahku, aku ingin
menawarkan 2 pilihan saja untukmu; Terima cintaku. Atau maki saja aku. Karna
jika tidak kau terima cinta, aku tak lebih dari pecundang yang gagal menangkap
hati bidadari surga.
Selamanya
aku akan terus menunggu jawabanmu,
hingga terbuka hatimu oleh waktu. Hingga Tuhan memberi waktu untuk kita
bertemu.
Dengan
cinta,
Faqih
Hindami

Suka bangt kata kata ini " maka. aku tidak mencintaimu karna kau indah. Tapi, kau indah karna aku mencintaimu."
ReplyDeleteTulis lagi dong kiiihhh